Malam pertama di desember

0

Ini malam 1 desember 2015
Aku terbaring dalam ruangan yang tidak terlalu luas. Jari jariku tak henti hentinya menari menyentuh huruf demi huruf.
Di luar aku mendengar gelegar petir saling menyambar. Tapi hujan tak kunjung datang.
Aku menunggu. Menunggu hujan turun. Aku selalu menunggu. Menunggu seseorang misalnya. Ini perkara menunggu. Hari demi hari aku menunggu dia. Mungkin yang di tunggu tak sadar dirinya sedang di tunggu. Sampai akhirnya aku sadar bahwa dia tak pernah kembali lagi. Kini aku tahu menunggu itu bukan saja perihal menunggu dan menemukan seseorang yang akan menghampirimu. Tapi menunggu juga bersiap untuk kehilangan orang tersebut. Aku bosan menunggu. Menunggu yang pada akhirnya dengan alasan yang sama ditinggalkan begitu saja. Manakah dari perlakuanku sehingga kau membalasnya dengan sepertinya? Apakah aku pernah menyakitimu? Aku tak pernah paham akan sikapmu kini. Dan kali ini aku ingin mencintai seseorang yang juga mencintaiku. Yang dia mau menungguku. Bukan hanya yang ku tunggu.

Posted from WordPress for Android

0

Barangkali patah hati membuatmu berubah menjadi seseorang yang berbeda. Bahkan hancur. Hidupmu kembali menjadi kamu yang dulu. Berantakan. Kamu membiarkan dirimu tenggelam dalam lautan kesedihan. Kamu melupakan orang orang yang akan mengulurkan tangannya untuk membawamu bangkit kembali. Tanpa kau sadar dengan begitu kau juga telah menyakiti hati mereka. Kau melupakan orang orang yang selama ini selalu ada untukmu. Tanpa kau sadar itu menjauhkanmu dari mereka. Kau bertahan dengan egomu dan membuang mereka yang sebenarnya layak untukmu. Selalu ada untukmu.
Hingga suatu hari kau akan sadar bahwa mereka yang benar benar selalu ada untukmu kini telah pergi karena kau yang secara tak sadar telah mengusir mereka dari hidupmu.

Posted from WordPress for Android

Bahagiamu Lebih Penting Dari Apapun.

0

Pada akhirnya kau harus menerima bahwa orang yang kau inginkan,orang yang sering kau sebut namanya dalam doa,orang yang mati matian kau buat dia senang dan tak ingin membuat hatinya sedih ternyata meninggalkanmu secara perlahan lahan.
Menjauh dari hidupmu secara disiplin. Kamu yang secara optimal memperjuangkannya merasa perjuanganmu kali ini kau cukupkan. Ingatlah satu hal jika dia memang ditakdirkan tuhan untukmu maka dia akan kembali kepadamu. Aku sedih tentunya. Bukan oleh karena perasaanku terhadap dirinya. Itu sudah tidak penting lagi. Yang aku khawatirkan adalah bagaimana keadaanya sekarang.
Persahabatan kami bagiku lebih penting daripada perasaanku sendiri kepadanya. Adakah yang bisa mengembalikan dia orang yang aku sayang kembali menjadi dia yang dulu ku kenal?
Dulu kami begitu dekat meski jauh. Tapi kini terasa kami jauh. Semakin hari semakin jauh. Siapakah diantara kita yang perlahan menjauh mundur? Bisakah kita tetap berteman seperti biasanya? Berbicara tentang banyak hal yang kita sukai? Atau sekedar saling berbagi video tentang apa saja? Tidak bisakah kita seperti dulu lagi?
Pada akhirnya aku dipaksa untuk melepaskanmu. Melepaskan semua kenangan tentang kita. Aku kehilanganmu. Aku masih mencintai kamu orang yang sama. Tapi tenanglah cintaku tidak akan memaksa jika kau masih belum bisa melepaskan perasaanmu pada masa lalumu. Kebahagianmu lebih penting dari perasanku. Aku sedih melihat kau yang seperti ini.
Apa pada akhirnya kita harus saling melepaskan tanpa ada sebuah kata perpisahan?
Aku ini temanmu. Bisakah kau mempercayakan aku sebagai temanmu? Sekali lagi bagiku bahagiamu lebih penting dari rasa sayang dan cinta yang setiap hari aku pupuk untuk kamu. Jika pada akhirnya kau tidak denganku asal kau tidak sedih maka aku tak mengapa. Aku hanya mau kamu yang dulu. Kita teman kan.
Mungkin bagiku berat karena terika oleh janji yang kita ucapkan untuk saling menunggu. Tapi aku tak ingin melihat kau bersedih seperti ini. Bisakah kau tersenyum lagi? Aku merindukan senyummu. Atau celotehanmu di tengah malam.
Kau masih segalanya bagiku. Kau masih orang yang aku sayangi, kau masih orang yang aku cintai dan kau masih orang yang aku rindukan. Biarkan rasa ini aku tanam sendiri. Karena bagiku bahagiamu lebih penting dari apapun.

Posted from WordPress for Android

0

Pada akhirnya yang bisa menolongmu adalah dirimu sendiri. Kau harus membuka diri, merubah pola pikir. Apa yang kau dapat dengan bersikap seperti ini? Dia tidak akan kembali. Dan kau masih saja terjebak dengan perasaan itu. Aku tidak akan memaksamu. Aku hanya sedih melihat kau seperti ini.
Maukah kau mengulurkan tanganmu, setidaknya ulurkan kepadaku. Aku ini temanmu kan.
Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan seperti ini. Kembalilah menjadi senang karena pasti Tuhan menyiapakan yang terbaik untukmu.

Posted from WordPress for Android

Tentang Hati yang Menetap

0

Senin 16 November 2015 jam 4.22 pm

Sore ini hujan. Hujan sebesar biji jagung dijatuhkan begitu saja. Dingin. Hujan menyimpan kenangan. Kali ini tentang perasaan.

Kau tahu seberapa dalam aku mencintaimu. Aku ingat ketika setiap kali akan menuliskan sebuah pesan untukmu. Dengan harap apa yang akan kau balas. Aku juga ingat  tak jarang kau hanya membaca pesanku saja. Tapi tak apa. Itu hak mu. Ketika kau membalas pesanku maka aku tahu kau masih berada di bumi dan aku tahu kabarmu.

Aku ingat tak jarang aku bangun tengah malam hanya untuk membalas pesanmu karena aku tak ingin membuatmu menunggu. Atau sekedar melihat apakah kau mengucapkan selamat malam untukku.

Jika kau hilang arah tolong datanglah padaku,ceritakan semua masalahmu. Aku ada.
Tidak mungkin aku meninggalkanmu.

Bisakah kau mempercayaiku?
Terkadang kau menganggapku ada. Terkadang kau membuat aku merasa kehilanganmu.

Kau tahu cinta ini terlalu dalam. Sulit melepaskanmu dalam pikiranku. Itu alasannya kenapa cinta ini selalu ada bahkan ketika kau menganggapku tidak ada karena aku mempunyai hati yang akan terus menetap kepadamu.

Posted from WordPress for Android

Kedai Kopi Impian

0

Hari ini Senin 16 November 2015 seharusnya sudah masuk musim penghujan. Tapi hujan masih malu malu untuk turun. Sekarang di sebuah gedung kantor berlantai dua saya mulai mengetikan kata demi kata. Dalam sebuah kubikel ditemani security yang hari ini berjaga.
Kopi. Saya penikmat kopi. Terutama Arabika. Tidak jarang ketika sedang menulis saya selalu ditemani secangkir kopi dan sepiring biskuit coklat. Apalagi sambil ditemani hujan. Itu sempurna bukan.
Ngomong ngomong soal kopi. Saya selalu berkeinginan mempunyai sebuah kedai kopi. Bangunannya terdiri dari dua lantai. Dindingnya berwarna kopi tapi lebih muda. Kursi kursinya terbuat dari kayu dengan kaki kaki yang tinggi langsing. Lantai pertama harus berkesan minimalis. Lalu sebelah kiri akan menemui sebuah tangga. Di ruangan itu akan ada sofa berwarna merah yang empuk juga bantal bantal kecil berwarna warni. Di sisi sisinya akan terdapat rak buku tempel yang akan di isi dengan berbagai macam novel.
Saat hujan tiba pengunjung dapat menikmati secangkir latte hangat sambil mengenang cinta pertamanya di sudut kedai kami. Dan aku akan juga akan menunggu cintaku berkunjung sambil menikmati espresso dan segala tulisannya tentang dia.

Posted from WordPress for Android