Review Novel Montase

Judul  : Montase
Penulis  : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Halaman  : 357
Aku berharap tak pernah bertemu denganmu. Supaya aku tak perlu menginginkanmu, Memikirkanmu dalam lamunku. Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu. Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu. Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku. Tapi…, Kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa. Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai… dan dicintai sosok seindah sakura sepertimu.
Ini novel kedua karangan Windry yang saya baca setelah Metropolis. Setelah dulu saya jatuh cinta dengan alur cerita Metropolis, begitu saya menemukan novel ini terpajangan di salah satu rak toko buku maka saya pun tak lama berpikir untuk segera membeli novel ini.
Novel ini bercerita tentang Rayyi mahasiswa IKJ yang terjebak dalam Peminatan Produksi karena ia adalah anak seorang produser ternama di Indonesia. Padahal ia sama sekali tidak berminat menjadi Produser. Ambisinya adalah membuat film seperti yang dibuat oleh Dziga Vertov dengan Man with a Movie Camera. Ya.. ia lebih berminat pada dokumenter tapi sama sekali tak bisa masuk dalam Peminatan Dokumenter.
Sampai-sampai untuk memenuhi keinginananya ia rela menyelinap dalam perkuliahan dokumenter ketika seorang pembuat film dokumenter terkenal  yaitu Samuel Hardi menjadi dosen dikampusnya.
Ketika hidupnya dibuat dilema antara menjadi produser mengikuti jejak ayahmya atau menjadi pembuat film dokumenter seperti impiannya, ketika itu pula ia mengenal Haru si kepala angin. Pertemuan dengan Haru boneka kokeshi itu merubah jalan hidupnya.
Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain
Ya novel ini bukan hanya sekedar dunia kampus, mahasiswa, persahabatan dan cinta. Tapi Windry mengajarkan kita bagaimana cara berpikir dalam mengambil suatu keputusan tentang impian kita secara bijaksana. Windry menuliskan novel ini dengan cerita yang menurut saya sederhana, tapi bukan Windry namanya jika dibalik kesederhaannya ia SELALU bisa membuat pembaca terkesan dengan ceritanya. Ah saya rindu si kepala angin itu.
Selain Haru kita juga akan diperkenalkan dengan anggota yang memanggil dirinya dengan Google V.  Cerita memang tak selamanya indah selalu ada bagian pahit, sedih lalu menangis. Begitu pula cerita dalam novel ini. Haru yang membawa angin segar dalam kehidupan Rayyi tapi juga membawa kesedihan dibalik senyuman selebar perahu naganya. Haru harus kembali ke negaranya Tokyo Jepang karena suatu alasan. Ia menderita Leukimia.
Bagaimanakah nasib Rayyi yang ditinggal pergi Haru secara tiba-tiba? Bagaimanakah nasib Haru akankah ia memenangi kompetisi yang ia ikuti dengan Rayyi? Akahkah ia bersama dengan Rayyi? Ataukah?? Aaaahh….
Penasaran??? Silahkan beli novelnya dan baca kelanjutannya.C__Data_Users_DefApps_AppData_INTERNETEXPLORER_Temp_Saved Images_montase-buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s