You Belong With Me

“Kau membuatku gemas jika sedang marah.”
Sore itu di salah satu sudut coffee shop, aku mengaduk-ngaduk latte yang menyisakan dua tegukan lagi. Aku perhatikan pria dihadapanku yang sudah sepuluh menit berlalu masih saja berbicara. Sesekali dia mengusap belakang lehernya.
“Baiklah Ner, kita bisa jadwalkan lagi sabtu-minggu ini, toh filmnnya juga masih akan tayang dalam dua minggu kedepan. Ya baiklah-baiklah, aku janji. Bye.” Klik.
Salazar menghembuskan napas, dia terlihat sangat lelah. Aku tahu itu. Meski dia tidak memberitahuku. Aku juga tahu, sudah dua minggu ini dia kurang tidur. Pekerjaannya sebagai video editor sangat menguras waktu dan tenaganya. Apalagi ini akhir bulan, banyak sekali deadline yang harus segera diselesaikan. Aku juga mengerti jika dia membatalkan janjinya dengan Nerra malam ini. Kami berjanji bertemu pukul delapan untuk membicarakan bisnis yang akan kami jalankan bersama.
Dia meneguk black coffee yang sudah hampir dingin, sambil melonggarkan dasi biru tuaya dia bertanya, “Bagaimana dengan pesanan kursi dan meja itu? Juga wallpapernya, apa semua beres?.”
“Kursi dan meja akan diantar hari minggu ini. Untuk wallpaper, apa kau sudah yakin coffee shop kita akan bernuansa shabby chic?” aku mengambil notesbook di meja dan menyodorkannya kepada Salazar.”
“Kenapa kau masih bertanya? Bukankah kita telah sepakat?” dia berbicara sambil memajukan posisi duduknya kedepan lalu membuka lembaran demi lembaran notesbook yang didalamnya terdapat potongan-potongan jenis wallpaper yang sengaja aku tempelkan.
“Aku tahu kau lebih menyukai wallpaper dengan gambar biji kopi daripada wallpaper berwarna pink dengan gambar bunga-bunga kecil. Belum terlambat untuk mengganti wallpaper ini, dan jika kau ingin menggantiknya sungguh Salazar aku tidak keberatan.”
Seorang barista bernama Pram menghampiri kami. Tangannya memegang nampan berisi dua gelas yang dari aromanya aku tahu itu coklat panas. Aku baru ingat ini malam rabu, coffee shop ini selalu memberikan dua cangkir coklat panas kepada para pelanggannya. Tapi pelanggan yang hanya dikenal oleh pemiliknya tentu saja.
“Halo guys, kali ini kalian yang menjadi pelanggan beruntung karena terpilih di malam rabu malamnya coklat panas gratis.”
Satu teguk coklat panas cukup untuk membuat pikiran tenang kembali. Satu teguk coklat panas kadang dapat mengembalikan kita pada sebuah memori yang tersimpan rapat dalam laci paling bawah. Memaksa kita untuk mengenang setiap kisahnya. Seperti kali ini, aku teringat kembali akan pertemuan dengan Salazar untuk pertama kalinya tiga tahun lalu, dan dia tak pernah berubah hingga kini.
“Oh thanks Pram, kemana Ilham tidak kelihatan malam ini?”
“Mas Ilham tadi buru-buru pulang ada urusan mendadak mbak Al.” Barista yang wajahnya mirip Reza Rahardian itu segera kembali ke countre setelah menyelesaikan tugasnya.”
Hari ini malam rabu, jarum jam menunjukan angka tujuh lebih lima belas menit. Di luar hujan turun tidak begitu deras, tapi hujan hari ini enggan berhenti sejak sore tadi. Untung pembukaan SA10 Coffee Shop tadi tetap berjalan lancar. Berawal dari kesukan kami berdua pada kopi yang mendorong aku dan Salazar untuk mendirikan SA10 ini.
Kling…kling, lonceng yang aku pasang di atas kosen pintu berdenting. Seorang wanita berperawakan jangkung masuk, dia mengenakan atasan berwarna putih, rok tutu berwarna hitam dipadukan dengan legging berwarna senada tak ketinggalan heels yang membuat kakinya semakin jenjang. Sangat perempuan sekali. Berbeda denganku yang lebih menyukai T-shirt dan Jeans belel. Jika aku tak salah ingat, Nerra adalah kapten tim pemandu sorak semasa di bangku kuliah. Kakinya mengetuk-ngetuk keset, membiarkan sisa air hujan yang menempel di sepatu cantiknya turun. Matanya memandang kesekeliling, mencari seorang pria. Aku tahu itu. Siapa lagi kalau bukan Salazar, pria yang saat ini tengah duduk dihadapanku sambil membaca novel kesukaannya.
“Nerra tuh.” Kataku sambil mengambil novel dari tangannya lalu beranjak pergi ke countre.”
Kala itu I knew you were trouble Taylor Swift sengaja aku putar. Aku memang menyukai Taylor dan bukan hanya aku tapi Salazar juga. Suasana malam ini sangat sepi hanya menyisakan dua orang sejoli yang tak lain dan tak bukan adalah Salazar dan Nerra, seorang barista bernama Boy dan aku yang memasang wajah-sangat-ingin-kelewat-tahu apa yang sedang mereka berdua bicarakan.
“Oh Al, bisakah kau ganti lagunya? Aku tidak menyukai Swift.” Tiba-tiba saja Nerra berteriak kearahku.
Hey…hey…hey siapa dia? Dan dimana dia? Bisa-bisanya menyuruh aku mengganti lagu favoritku, lagian sejak kapan seorang pengunjung berteriak kepada pemilik coffee shop untuk menganti lagunya. Salazar pernah bilang padaku bahwa Nerra tidak menyukai lagu-lagu Taylor Swift. Tapi apa peduliku. Tapi ah sial, jika bukan karena melihat wajah Salazar yang saat itu terlihat memohon, aku enggan mengganti lagunya. Kali ini Nerra benar-benar trouble.
Sudah tiga puluh menit mereka berdua terlibat obrolan yang kelihatan serius. Latte yang ada dalam cangkir hijau pun sepertinya sudah dingin karena aku belum melihat sekalipun Nerra meminumnya. Bahkan kini mereka saling melipat tangan masing-masing ke dada. Hujan diluar pun telah berganti menjadi badai, ya tiba-tiba saja angin, petir menggelar. Ah aku tak suka hujan yang seperti ini. Satu jam kemudian Nerra pergi ketika hujan telah berhenti. Aku menghampiri Salazar yang kala itu menutupi wajahnya dengan tangan. Dia sedih. Aku tahu itu. Aku tahu semua tentang Salazar. Aku juga tahu apa yang sedang dia rasakan.
“Nih coklat panas, untuk tuan berwajah mendung.” Aku memberikan segelas coklat panas.
Salazar kaget melihatku sudah ada dihadapannya.
“Ah kau tahu saja jika aku sedang butuh coklat panas.”
“Aku tahu segala hal tentang kamu.” Kataku sambil nyengir.
“Mau jalan-jalan ke taman?”
“Hey sudah pukul berapa ini?” aku melirik jam berbentuk bunga matahari di dinding.
Di sinilah kami saat ini, sambil merapatkan jaket masing-masing, aku duduk bersama Salazar dibangku panjang berwarna coklat. Taman sangat sepi. Aroma tanah yang ditinggalkan setelah hujan amat terasa. Jika bukan Salazar yang mengajak, aku enggan kemari lebih baik aku tidur atau membaca novel sambil mendengarkan Swift bernyanyi.
“Kau ingat Al satu tahun lalu hampir tengah malam, aku mengetuk pintu rumahmu.” Dia berkata sambil memandang langit.
“Yayaya, aku ingat, kala itu malam rabu kau seperti bebek yang menangis karena kehilangan ibunya. Ah, bukankah kau habis putus dengan siapa itu mantanmu yang model itu sebentar-sebentar.” Aku menempelkan telunjuk ke dahiku bergaya sedang mengingat-ngingat. “Intan, ah ya Intan namanya. Ingatanku kuat bukan? Aku sedikit tertawa.
“Iya dan malam seperti itu terjadi lagi malam ini.”
Seketika aku memandang pria disampingku, aku pegang lengannya, memaksa dia untuk melihat kearahku. Aku tatap mata coklatnya, mata yang selalu aku kagumi. Tapi yang kutemukan hanya mendung. Dia serius. Hari ini malam rabu satu setengah tahun telah berlalu, dan sudah sembilan bulan dia menjalin hubungan dengan Nerra. Kini di malam rabu dia harus mengakhiri hubungannya. Aku ingin marah. Pada siapa? Pada Nerra tentunya.
“Apa alasannya?”
“Dia mempermasalahkan aku yang selalu mengutamakan pekerjaan, terlalu sibuk dengan bisnis-bisnisku, terlalu banyak menghabiskan waktu denganmu.”
“Bukankah setiap hari kau menjemput dia pada jam pulang kantornya? Bukankah cuma sekali kau tidak menepati janji pada saat weekend. Bukankah kalian selalu menghabiskan waktu berdua untuk pergi ke Bandung. Dan jika dia mempermasalahkanmu lebih banyak menghabiskan waktu denganku, aku pikir dia hanya mengada-mengada. Bukankah dia tahu, pertemuan kita untuk urusan bisnis saja?.”
Emosiku mencapai puncak. Kali ini aku benar-benar membutuhkan segelas coklat panas.
‘‘Entahlah Al, aku sudah jelaskan itu semua.” Dia menghembuskan napas berat dan dalam.
“Jangan menahan yang sudah ingin pergi, jangan memaksa jemari saling bertaut jika jemari yang lain sudah ingin melepaskan. Jangan mencintai orang yang sudah tidak mencintai kita. Dan jangan memaksakan seseorang untuk mengerti kita. Jika dia memang mencintaimu, dia akan mengerti keadaanmu.” Aku tersenyum pada sahabatku.
Sahabat mungkin bagiku dia lebih dari sahabat. Entah sejak kapan perasaan ini berubah. Dia Salazar. Salazar yang diam-diam aku cintai. Salazar yang setiap pagi aku tunggu kehadirannya. Salazar yang mengerti aku. Dan kini orang lain mengecewakan Salazar yang aku sayang. Aku tak percaya ini.
“Hey Al, sejak kapan kau bisa berbicara sebagus itu? Dia tertawa memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
“Ah, kau ini. Aku ini selain jago membuat kopi, juga jago menulis. Kau tahu sudah berapa banyak tulisanku yang dimuat dan menang lomba, banyak.”
“Iya, iya aku tahu kau jago menulis, tapi sayangnya novelmu belum juga terbit sampai sekarang.” Dia tertawa lagi. “Tapi tunggu kenapa kau masih ingat bahwa hari ketika aku putus itu malam rabu? Kali ini wajahnya terlihat sangat serius.
Tidak mungkin aku mengutarakan alasan yang berkaitan dengan perasaanku kepada dia. Aku tidak mau merusak persahabat kami. Aku tidak ingin kehilangan sosok istimewa seperti dirinya. Biar saja seperti ini, karena dengan begini akan tetap indah. Aku memandang Salazar, mata kami bertemu, seketika aku kehilangan oksigen.
“Ah kau ini, kau ingat sudah berapa lama kita bersahabat? Dalam waktu selama itu aku sudah tahu bagaimana dirimu, apa kesukaanmu, aku kan perhatian.” Godaku sambil menjawil dagunya.
“Iya memang cuma kamu yang mengerti aku.” Dia balik menjawil daguku.
Kita berdua tertawa. Lalu memandang langit yang sama.
Kataku, “Yang mana bintangmu?’’
“Hah, emh yang itu yang paling terang?” dia menunjuk ke atas. “Kalau bintangmu?”
“Aku yang itu, yang tepat di sisi bintangmu.”
“Iiiish kau ini kenapa dekat-dekat dengan bintangku?”
Aku menoleh kearahnya, “Karena tidak ada bintang lain yang ingin dekat dengan bintangmu. Hanya bintangku yang bisa mengerti bintangmu.”
“Kau memang mengerti aku Al. Salazar menatapku sambil tersenyum. Dia melanjutkan, “Al kau tahu bagian terakhir lagu Taylor Swift yang kita sepakati sebagai lagu favorit kita berdua?”
Lalu kami sama-sama bernyanyi.
Have you ever thought just may be
You belong with me
You belong with me.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s