M&B

Akan saya ceritakan sebuah kisah. Kisah tentang seseorang yang mendapat status istimewa.
Sebenarnya kami berkenalan sudah lama. Tahun dua ribu delapan kala itu. Kenal tak kenal sebenarnya. Kenal karena kami memang sering bertemu. Tak kenal karena dalam setiap pertemuan kami tak saling sapa. Jangankan mengobrol panjang lebar, say hallo saja mungkin “kadang”.
Hari berganti minggu, minggu berganti tahun. Seolah kami berdua saling melupakan. Ah bukan melupakan karena memang tidak pernah terjadi apa apa.
Segala hal terjadi dari masa ke masa setelah itu. Kami mungkin sudah tak ingat satu sama lain. Tetapi Allah mempertemukan kami kembali lewat tulisan-tulisan, lewat musik.
Saya ingat kala itu tanggal sepuluh desember dua ribu empat belas. Ternyata Muse yang mempersatukan kami kembali. Iya saya akan bilang bahwa angin pun tidak membawa dia kepada saya. Hujan pun tidak mengantarkan sosoknya. Dia datang begitu saja dengan segala keajaibannya.
Iya saya bilang dia ajaib. Kami ternyata memiliki banyak kesamaan. Musik, latar belakang keluarga, dia yang memperkenalkan saya dengan musik musik bagus. Dia yang menjadi inspirasi saya dalam menulis.
Sejak itu kami sering bersua lewat pesan-pesan. Setiap malam kami bercerita tentang apa saja. Bukankah kami baru saja memulai? Iya memang tapi entah kenapa masing masing dari kami bisa bercerita lepas, menceritakan apa saja.
Banyak kebetulan yang terjadi antara saya dengan dia.
“Dia sedang menuliskan ceritanya, skenario-Nya.” Pada suatu malam yang dingin dia menjawab seperti itu ketika saya dan dia sedang membahas begitu banyak kebetulan yang terjadi di antara kami.
Suatu hari dia bercerita tentang kelebihannya kepada saya. Saya tidak akan bilang apa itu. Tetapi sejak saat itu seolah apa yang ingin saya katakan, apa yang saya rasakan, tanpa saya mengatakannya kepada dia, dia sudah tahu apa itu. Yaa itu kelebihan saya bilang.
Dengan itu kami semakin mengerti bahwa ada kata-kata yang tak terucapa tetapi kami bisa saling memahami. Dan tahu bagaimana menghibur satu sama lain.
Sejak desember itu, saya ingat hanya pada tanggal tiga puluh satu januari kami bercakap lewat telepon untuk pertama kalinya. Itu pun tak lama.
Sebenarnya kami berdua sama-sama suka jalan-jalan. Terkadang kami merencanakan untuk backpacker bersama. Tapi entah kapan hal itu akan terlaksana. “Someday” dia menjawab begitu ketika kami sedang membicarakan hal ini.
Kami memang belum bertemu lagi. Tapi saya percaya tak penting seberapa banyak waktu yang kau punya untuk bertemu, ini soal hati, ini soal persahabatan kami. Saya dan dia.
Terlalu cepatkah saya menganggap dia sebagai seorang sahabat? Saya jawab tidak. Dia memang sahabat saya. Dia penyandang status istimewa bagi saya.
Allah berikan dia untuk saya. Dia anugerah bagi saya. Ingin suatu hari nanti saya berkata pada ibunya “Terima kasih karena telah melahirkan …..” (saya tidak bisa sebutkan nama sahabat saya itu).
Untuk sahabat istimewa saya. Terima kasih telah hadir dalam hidup saya. Memberi warna, tawa, berbagi kesenangan, berbagi kesedihan, teruslah seperti ini. Jangan pikirkan kapan kita akan bertemu. Tetaplah seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s