TOUCHE

image

Saya hampir berpikir untuk berhenti menulis. This draft very affected. Menguras emosi saya. Ini dikarenakan Salazar dan Pria penyuka teh. Mereka 99%  hampir mirip. Mungkin hanya minumannya saja yang berbeda. Tapi disuatu pagi yang mendung sembari menikmati secangkir kopi mama berkata pada saya “Apa impian untuk menandatangani novelmu sendiri sudah kau pupuskan begitu saja?” Atau apa impianmu pergi ke Belanda sudah kau lupakan juga?”

Saya menghela napas. Sambil mengaduk green tea latte yang mulai dingin saya kembali memikirkan jawaban atas pertanyaan mama barusan.

Hujan. Ya saya membutuhkan hujan sebentar saja. Untuk bisa melanjutkan tulisan saya membutuhkan hujan. Saya tidak ingin kehilangan Salazar dan Allera. Seperti Allera yang terus menyakinkan Salazar. Maka saya pun akan meyakinkan diri saya bahwa saya mampu menyelesaikan tulisan ini. Saya hanya perlu meyakininya saja.

Saya mencicipi cairan hijau itu. Aah pria penyuka teh. Kini saya merindukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s